There’s “T” in LGBT

My idea of holiday, selalu melibatkan full list of activities, dari pagi sampai malam, lalu jatuh terkapar tidur. Besok pagi udah bangun pagi-pagi, jalan-jalan lagi, sampai malam, trus terkapar lagi. Last time waktu gue ke Bali dengan temen yang holiday’s ideanya bangun-jam-12-siang-gak-ngapa-ngapain-sampai-sore-cuma-males-malesan-sun-bathing-dan-nyari-makan-trus-malamnya-clubbing, bener-bener gak nyambung.

Gimana bisa nyambung kalo gue pagi-pagi udah bangun, udah ke pantai buat lari, dan trus mati gaya nungguin orang bangun siang. Rasanya, kayak buang-buang waktu…

Entah emang gue yang harus mengubah gaya liburan gue untuk bisa bener-bener “nyantai ajaaaa!!!!!”, atau mungkin emang harus nyari holiday’s buddy yang gayanya sama ama gue?

Well, tante Nov is the answer! Hihi…

Jadi ingat waktu ke South Korea dulu ama Nov dan Berd, jam 9 pagi kita udah jalan dari guest house buat wisata budaya, lalu berakhir dengan wisata belanja dan makan-makan. Pulang jam 10 dengan tangan penuh tentengan belanjaan, udah kecapekan, dan langsung terkapar di kamar. Gue ama Nov tidur, si Berd nyusun acara buat besok mau ke mana. Hihihi….

Nah, giliran bulan lalu gue ama Nov dan Den liburan ke Yogya, gue yang ngatur acara. The thing is, gue emang pengen liat-liat object wisata “kebanyakan” di Yogya – Borobudur, nonton Rama-Shinta di Prambanan, trus ketemu temen-temen lama gue, trus belanja batik, trus makan-makan. Dan yang lain udah setuju untuk ngikut aja.

Tapi ya, meski kemana-mana dianter pake mobil sewaan, tetep ya capek!!!!!!!!!!!!!!!!! Yogya panas! Gue menghitam, dan belang-belang! Aduh!!! Masalahnya, kalo orang lain belangnya paling seminggu dua minggu ilang, lah…. Gue bisa 2-3 bulan tetap aja belang, dan bisa gak balik-balik! Hiks…

The common thing about me, Nov, dan Den,… the three of us are the big fan of massage. Nggak di Jakarta, atau kalo lagi liburan, pasti nyempetin to find the best place to get massage in town.

Masalahnya, kita harus nyari Spa yang ada masseur man-nya. Hm……… gue dan Den mana mau kalo yang massage pere! Bukan muhrim!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Hihi… jadi pantang gue dipegang-pegang. Takut kelepasan… hihi…

Masalahnya, not all the good massage place in town nyediain masseur-man. Di Jakarta aja nggak gampang nyarinya, apalagi kalo udah ke luar kota. Beda ama Bangkok… it’s everywhere! Mulai dari cuma reflexy sampai yang all-you-can-imagine-happen-between-masseur-and-his-customer.

Nah, di Yogya di mana nyarinya??? Selidik-selidik, akhirnya gue mutusin untuk coba telepon ke Spa-ala-putri-keraton-di-hotel-bintang-lima. Gue ingat, pernah baca di Garuda-in-Flight magazine kalo spa itu punya male-package.

So, we called.

“Mbak, mau nanya dulu… di sana ada therapist laki gak?”

Ada, Pak. Buat berapa orang?

“Dua mbak yang therapist laki-nya, plus satu yang wanita.”

Long pause…

Lalu, dengan perlahan dan lembut penuh kehati-hatian… “Pak, kita ada 2 therapist laki… tapi yang satunya……… lady boy, Pak…”

Long pause…

Gue bengong. Lady boy? Gue langsung ingat banci-banci Taman Lawang… dan pengen ngakak! Definitely not for me!!!!!!!!!!!!! Tapi si Den pasti juga ngamuk-ngamuk kalo dikasih lady boy masseur.

“Gimana, Pak? Apa mau pikir-pikir dulu?”

“eh… eh… iya mbak… coba saya tanyain temen dulu ya… dia mau apa nggak…”

Hihihihi………… I didn’t call back! Seperti dugaan gue, si Den ngamuk-ngamuk kalo dikasih lady boy masseur itu buat dia!

Aduh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Sumpah, gue ngakak, tapi kok agak merasa bersalah ya???? Gue merasa racist! Merasa melakukan hate-crime! “Who the hell you are to reject the lady-boy while you always promote the same-rights of LGBT!!!!!!!!!!!!! There’s T in LGBT, and you are racist!!!!!!!!!!!!!”

Beneran, berasa gak enak… tapi………… aduh, beneran kali ini gue harus minta maaf ke mbak-mbak Ladyboy di mana aja berada for my-totally-inappropriate-behavior. Beneran, maaf………… I don’t really mean it.

So then… gimana gue bisa menuntun persamaan-hak dengan str8 people, kalo gue gak bisa memperlakukan sodara-sodara transgender gue dengan benar????????

Fa, guilty!

V-Neck, Kaok Ketat Warna-Warni, dan Tote Bag

Gym’s done!

Gue melenggang jalan keluar locker. Kaos ketat warna merah. V-Neck. Nenteng tote-gym bag warna merah. Celana dalam merah, but you can’t see!!!!!!!!

If I were in Malaysia, people will say, “Watch Out! Gay man’s walking!!!!!!!!!!”

Jadi ingat tahun lalu, Teachers Foundation of Malaysia, disupport oleh Kementrian Pendidikan-nya mengeluarkan guideline buat orang tua murid, “Guideline to Identify Gays and Lesbians” supaya para orang tua cepat ngambil tindakan jika anaknya memperlihatkan gejala-gejala bakalan jadi gay / lesbian, punya bakan terpendam, atau udah mekar.

Symptoms of Gays:

  • Have a muscular body and like to show their body by wearing V-neck and sleeveless clothes
  • Prefer tight and light colored clothes
  • Attracted to men
  • Like to bring big handbags, similar to those used by women, when hanging out.

Symptoms of Lesbians:

  • Attracted to women
  • Besides their female companions, they will distance themselves from other women
  • Like to hang out, have meals and sleep in the company of women
  • Have no affection for women.

Ridiculously funny, I may say!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Meskipun kalo gue mau jujur ngeliat di cermin: [1] Have muscular body, lumayan, check! [2] Like to show my body by wearing V-neck and sleeveless clothes, check! [3] Prefer tight and light colored clothes, ….. again, check!!!!!!!!!!! [4] Attracted to men,…… DOUBLE CHECK!!!!!! [5] Like to bring big handbags….. mak………….. peralatan gym gue banyak yaaaa, belon produk kecantikan,…. So check!!!!!!!

But it was ridiculously funny to make these as gay-symptoms! Dan kalo pun maksa…. kok gay symptoms dan lesbians symptoms-nya gak apple-to-apple? Mana “women-like-to-dress-like-men-wearing-shirt-jeans-and-flat-chest” nya??????????????????? Hihihihi…. Or, “butched-macho-than-average-gay-men”?

It’s fashion, I say! Dan terlalu lugu yet stupid to identify sexual orientation just based on the fashion sense. Although, it does show,… but only a little bit!

Just because wearing V-neck, ya gak berarti cong!

Tank top…….. di gym juga banyak str8 yang pake!

Bright color? Hello!!!!!!!!!!!! Unless a man know differentiation between fuchsia, lilac, dan fandango!

Prefer tight clothes? Kalo perutnya gendut, nggak ya!!!!!!!!!!!!

Not until a boy kissing a men, ya!!!!!

Fa, I-am-a-boy-kissing-a-man

Support Gay Marriage ….. and Drink Starbucks

One thing I can’t forget about the hate-twit by ibu-ibu itu, dia bilang [yah… kira-kira gini deh…. Gue males buka twit lagi], “Pokoknya kalo ada gerakan mendukung gay marriage,…. Saya yang akan berdiri paling depan menolaknya.”.

Kata gue, “Pokoknya kalo ntar gue married sama My_Noon, Ibu jangan harap diundang yeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!!!”

Hihihi…..

The thing is, seperti yang dari dulu gue selalu bilang, we don’t need other people approval to get married. Bahkan, jika emang gak bakalan ada tanda-tanda bisa same-sex married bisa dilakuin di sini, gak punya duit buat kawin ke Belanda, …. Ya kawin aja sendiri!

Invite temen-temen dekat.

Ask someone buat mimpin acara kawinan

Ask others to be witness.

Promote di twitter, path, instagram! hihi

Done!

Just about last week, gue baca di fridae tentang speech by Starbucks’ CEO – Howard Schultz –  to anti-gay shareholder-nya. It was an incidence during company annual investor meeting, ketika ada shareholder yang complain bahwa dukungan yang diberikan Starbucks untuk same-sex marriage, mengakibatkan perusahaan didemo.

In his speech to response the complain, Howard Schultz said:

“Not every decision is an economic decision. Despite the fact that you recite statistics that are narrow in time, we did provide a 38% shareholder return over the last year. I don’t know how many things you invest in, but I would suspect not many things, companies, products, investments have returned 38% over the last 12 months. Having said that, it is not an economic decision to me. The lens in which we are making that decision is through the lens of our people. We employ over 200,000 people in this company, and we want to embrace diversity. Of all kinds.

If you feel, respectfully, that you can get a higher return than the 38% you got last year, it’s a free country. You can sell your shares in Starbucks and buy shares in another company. Thank you very much.

Wow!!! That was nice!!!!!!!!!!!!!

I don’t really drink coffee – for me coffee is more as obat natural kalo gue lagi sakit kepala, as prescribed by My_Noon.

But I do a big fan of Starbucks.

And now…………. I even love Starbucks MORE!!!!!!!!!!!!

Sebenarnya, di luar sana… udah nggak aneh kalo banyak company yang supporting gay-rights… it means, mereka menerima kesetaraan hak antara gay dan str8 di tempat kerja, untuk mendapatkan perlakuan yang sama, bebas diskriminasi.

Let’s say, on the top list di Amrik: Levi’s, American Apparel, Nike, Microsot, American Airlines, Apple, Google, Starbucks, Boeing, IBM.

Meski banyak tuduhan miring kalo supporting gay-rights, mungkin cuma jadi alasan buat naikin brand image, naikin sales…. But in my opinion: who cares??? As long they are committing to it, bukan cuma slogan, I believe in the long term, gay-rights are becoming more equal, kan?

I am not really sure, kalo di Indo gimana…

Masih ingat dulu waktu majalah fitness pertama di Indo, dalam salah satu tulisannya apa komentar di surat pembaca, pernah menyatakan bahwa this magazine is for gay target. They might be right, but for me, not wise yah. It was like ignoring the fact that many of their readers are actually gay. Either yang bener-bener nikmatin info-info fitness, atau yang menikmati body-body bagus setengah halaman depan dan mengabaikan setengah halaman belakang yang isinya profile cewek-cewek sexy [what a waste! Hihi…]

Kenapa gak bilang aja, just like what Starbucks man said, “We value diversity. Of all kinds”.

Fa, Thank-You-Strabucks!

#LGBT Tidak Menular

This week, our world is shocked by serial hate-twitter about #LGBT. Udah baca kan? When a friend told me, and I read this hate-twit serial by @fahiraidris, gue langsung tepok jidat dan ngelus-ngelus dada montok gue…. “Arrggghhhh!!!!!!!! Not this kind of gay-hater situation again!!! Again??????? Seriously, mbak??? Seriously???”

After these past years of blogging to promote healthier image of #LGBT, …. hmmm…. sebenarnya banyakan cuap-cuap gak jelas sih… Gue pikir gay-hater udah gak ada lagi. Yah, FPI masih ada sih… tapi gue udah lama nggak pernah peduli dengan FPI. Menurut gue: bebal!

But clearly I was wrong. Masih ada aja lho gay -hater! Padahal zaman udah berubah. Facebook aja udah mulai gak laku, ganti sama path dan instagram. BlackBerry juga udah siap-siap kalah pamor sama Whatsapp dan Line. Eh….. kok ini pikiran masih cetek aja ya???

Emang bener kata emak-emak dulu: Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Nggak paham bener, sok cuap-cuap. Terlihat bodok kan???

Huh…… benci aku!!!!!! #gaya-tessy.

Sepertinya ada yang harus dibenerin lagi…

[1] #LGBT Tidak Menular

Rasanya udah sejak lama, bahkan di PBB kalau LGBT gak dikategorikan lagi sebagai penyakit. Sebagai “bukan penyakit”, artinya nggak ada virusnya, nggak ada bakterinya. Jadi, gimana bisa menular sih??? Gimana cara menularkannya?

LGBT is about sexual preference. Well…. we may not following the “normal” standard, tapi gak perlu ribut ngurusin bukan? Seperti halnya, toh #LGBT juga gak prenah ngutak-atik “str8″ – yang kalau dipandang dari kacamata #LGBT, hey…. mungkin “gak normal”.

Gay agenda untuk menyebarkan gay virus is a myth! Gak ada bukti bahwa bergaul dengan #LGBT, trus membuat str8 berubah orientasi jadi #LGBT. The truth is…. kalo emang dasarnya #LGBT, ya mo gaulnya sama str8 melulu, ya tetep aja #LGBT. Berlaku sebaliknya kan? Kalo emang str8….. gaulnya sama #LGBT melulu, ya tetep aja sampai mati jadi str8.

I have a good friend, Nov, a real str8 women….. tiap hari jalan ama gue, ama temen-temen gue. Meski dia dulu single, dan selalu ngomel kok ya nggak dapat-dapat pacar…. tapi ya sampai sekarang ya dia tetap str8! Dan sampai sekarang akhirnya dia punya pacar laki…. it does prove! If a man doesn’t have any interest to another man, he will not have sex with men. If he has curiosity… well… itu lain masalah kan???

Jika ada sosialisasi #LGBT, believe me… yang dilakukan bukan ngajak str8-str8 buat jadi #LGBT. Yang dilakukan adalah untuk ngasih tau…. some where, there’s another person who is different from your normal standard.

Toleransi di negara kita, jujur aja, udah terpuruk. Bhinneka Tunggal Ika hanya berupa simbol. Penerapannya hancur lebur. Yang mayoritas menindas yang minor. Yang merasa benar, menginjak-injak yang lain. Yang merasa normal, mengejek yang dianggap gak normal.

Jadi kalo ada pendapat bahwa di buku-buku #LGBT harusnya ada warning seperti di kotak rokok semisal “#LGBT itu gak normal, harus diwaspadai, karena bisa menular”. Nyakitin, tau!!!!!!!!!!!!!!!!!

Gue jadi ingat, last year, waktu gue sempat ke Hong Kong, di imigrasi, gue dihambat. Entah kenapa, petugas lamaaaa banget ngecap kartu imigrasi gue. Bolak-balik ngeliat di komputernya. Bahkan manggil temannya, bisik-bisik, lalu passport gue di bawa ke dalam kantor. Entah dia ngecek apa. Akhirnya lama, passport gue di bawa lagi ke counter imigrasi, dan dicap juga.

Kata temen gue, “It’s your name!’.

I have a moslem name. Denger kalo di imigrasi negara lain, nama gue jadi masalah, kemudian dianggap kemungkinan ancaman teror buat negaranya…… Nyakitin, tau!!!!!!!!! Pernah gak sih kepikir, kalo di negara-negara barat, katanya kalo nama lo “terlalu” muslim, susah dapat Visa, as if di SOP imigrasinya ada warning, “Hati-Hati, teroris!”. Atau, pernah gak sih kepikir, bahkan kalo masuk di negara tetangga aja, kemungkinan ada warning juga, “Hati-hati, mungkin TKI ilegal!” ?????

Nyakitin tau!!!!!!

Sama nyakitinnya kalo #LGBT dianggap penyakit menular, dan punya gay agenda untuk nularin orang-orang supaya jadi #LGBT juga.

Aduh………. most of us aja masih puny masalah dengan menerima diri sendiri. Gak ada waktu buat ngajak-ngajak orang lain! So, again…. #LGBT Tidak Menular ya…

Fa, pikiran-jahat-menular

Rest In Peace, My Queen [cc: Tata Dado]

Many, many, many, many years ago, gue pernah gak berhenti clubbing. Gue ngekost di Setiabudi, dan just across the street ke kuningan, there was my temple: Jalan-Jalan. Dari most, every sunday night, gue bengong di depan kost, ngeliat ke langit. Dan cahaya lamp menara yang tinggi itu berasa memanggil-manggil gue.

Jalan-Jalan.

It was such a heaven ketika itu udah ada club yang buka buat cong-cong hans tempat gaul seperti gue. Meski gay-night nya cuma sekali seminggu, dan itu juga hari Minggu malam, weekend gak pernah cukup tanpa Jalan-Jalan. Meski trus Seninnya ngantuk abis di kantor….. RELA!!!!!!!!!!! Meski toh gue juga gak betah lama-lama di club: gak ngerokok, nggak minum, just dancing, dan pemalu pula. Clubbing could be a very boring for me kalo kelamaan. Tapi RELA!!!!!!! Yang penting nongol, absen dulu!

Dan lebih rela lagi kalo tau, malam itu ada Tata Dado show dan Silver Boys-nya!

Siap-siap keluar duit lebih, siap-siap datang gak kemaleman, otherwise susah masuk, gak bisa dapat tempat di depan. Dan siap-siap ngakak abis!

Gosh….. as a new gay in town, yang gak pernah clubbing ever, gak pernah keluar negeri dan nonton banci-show, Tata Dado was completely hilariously funny!!! They sang, they danced! They acted, they were funny! And the dress…… gue selalu mikir: what a budget!!!!!!!!!!!

Joke-joke jorok yang cenderung slapstick, but it was successfully to make me laughing out loud, and clapped my hands a lot for them! What a performance.

And thanks to the queen: Tata Dado! He, or should I say she???, was a real performer. The brain behind his Silver Boys. I can’t thankful enough for making me laugh every once a month. And I can’t thankful enough to make us – the gays…… – forgetting about the life for 1 hour of his show.

Just this afternoon. A twit: RIP Tata Dado.

Gosh….. I was sad, and I mean it. Couple weeks a go, emang sempat ngeliat infotainment di TV di gym, berita kalau The Queen, sudan beberapa lama terbaring sakit. Gosh….. padahal baru beberapa waktu lulu gue sempat bertanya, “kemana dia?”, ketika gue nonton banci-show di Mirota Batik Yogya. Ketika itu, I said how much we – and what I mean by we: all the gays – missed him.

Tata Dado, no one compares to you!

I though I was the queen, I was wrong. You are The Queen!

Rest in Peace. May God blesses you.

For all the laugh you gave to your world, my world, our world.

Fa, …………

Merdeka! #eh?

Merdeka!

The question is: Are we?

The answer is: Of course not! Situ pikir???????

No, I am not pessimistic nor grumpy about our freedom. Meski sebenarnya gue juga nggak mau cuma sekedar nrimo aja kalau sebenarnya kita [baca: proud-to-be-born-LGBTQ] belum secuil pun ngerasain kemerdekaan di negara yang “katanya” berasaskan pluralism ini, tapi gue pikir, dari pada ngebodohin diri kita sendiri hidup dalam “serba ketakutan”, mendingan kita ciptakan merdeka buat kita sendiri.

Just yesterday, gue ngumpul-ngumpul bareng lagi sama temen-temen club Macho-Mary gue. Buka puasa terakhir, menyempatkan diri sebelum semuanya pada mudik, dan bermaaf-maafan.

Yesterday, in the middle of public crowd in a cozy restaurant, I felt something different. Us, all with round chest, or wide back, or flat abs, or big arms,….. satu dengan kaki jenjang ala Kate Moss…. lepas bebas.

We talked.

We laughed.

Gossiping.

Ngondek-ngondekan.

About men [of course!]

About batik [it’s new!]

About cakes [namanya juga ibu-ibu…]

About home [jadi kangen!]

About everything…. I can say!

That was the moment of freedom. Jarang, bukannya gak pernah, hal seperti itu kemarin gue rasakan in this group. Rasanya, nggak ada yang menahan diri untuk mencoba jaim. Sekrup-sekrup dilepas, meski toh juga nggak gemulai.

I felt freedom.

Of speech.

Of act.

So, speaking of our freedom, as I mentioned earlier, udah gak jaman deh mengandalkan diri pada kebebasan berdasarkan norma umum. We are not “umum”, we are special, rite? If the public say that “we are not, normal….”, then we have to say to ourselves: “Hei, we are the new normal!”.

So, I repeat the earlier question:

The question is: Are we?

The answer is: Definitely!

.

.

.

.

.

Fa, eh-merdeka!!!!!!

Plus-Plus Rasa Lokal Harga Impor [2]

In my “Anything About You Survey 2012”, ternyata to meet a man for paid-sex, majority gay men yang melakukannya emang langsung pergi ke tempat pijet plus-plus. 61% of them doing that. Tadinya gue pikir, % yang ketemunya di pinggir jalan atau di taman seperti di Lapangan Banteng itu banyak. Ternyata udah nggak! Yah, ada benernya sih, dari pada repot-repot keliling-keliling Lapangan Banteng [eh, emang masih buka yaaaaa????], dan repot nyari tempat, ya mending langsung ke lokasi pijet aja bukan?

Cara lainnya ketemu a man for paid-sex ternyata udah di internet dong. Yah, modal wifi doang, gak ribet. Either nemu di internet ad – facebook, milis, online-site dating, atau chat room. Ah, no wonder the blog ajaib itu eksis!!!!!!!!!!!

So, back to the blog ajaib yang isinya daftar pijet plus-plus, frankly speaking, gue masih gak abis pikir kok ya bisa-bisanya ngumpulin data seperti itu? Gue sempat ngeliat, just for iseng-iseng aja supaya gak ketinggalan berita, emang blog itu cerita apa sih???????? But I found nothing but picture, name, contact number, price, and many annoying comment like, “Ada yang udah pernah belum??? Review dong!!!!!!!!”, or another annoying comment, “Harganya?”

Dalam hati gue: telpon aja, bencong!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tapi gue cukup surprise ngeliat price rangenya ya… like 500 rb sampai sejutaan. Whaaaaaatttttt?????????????????????????????????????

Gue langsung ngitung jualan batik gue. Satu baju, untung 100 ribu. Jualan 5 sampai 10 baju, baru dapat untung segituan. Jiaaahhhh………………… enak banget ya kerja sejam dua jam udah dapat sejuta??????????????????? Gue jualan batik aja sebulan belon tentu laku 10 biji.

Trus………… eh, pikir-pikir… hihih… apa gue gitu aja ya??? Hihihi……… buat ongkos ke Manila.

Aduh, hidup kok ya gampang banget? Apa itu juga kenapa trus banyak yang [menurut gue] ngambil jalan pintas buat ‘jual diri’, trus keenakan, and stay in the business???

Kata temen gue, “bisa ditawar kok!!!!!!!!!!!!!!!”. Hihihihi… seriously? Bisa ditawar? Jiah, bagaimana nawarnya????????? Kebayang…………

Buyer: Mas, tarifnya berapa?

Masseur: 1 juta 3 jam…

Buyer: Boleh kurang nggak?

Masseur: Nawarnya berapa??? Punya saya gede lho… 17 cm, pasti puas!

Buyer: 500 rb aja… boleh nggak?

Masseur: 500 rb??? Hm… naikin dikit deh……

Buyer: 600 ribu, final!

Masseur: naikin dikit lagi deh, belon balik modal nih… Kalo 600 rb, ntar saya ngacengnya gak full ya, cuma sampai 15 cm aja………

Igh……………………

Trus kata temen gue lagi, “yang mahal biasanya gara-gara mereka go international”. Oh yeah, gue baca banyak di antara masseur [ugh, should I say, escort?] yang jualannya udah ke Singapore, KL, dll. Modal passport dan tiket, sewa apartemen sebulan, jualan deh… Dan katanya bisa dapat SGD 200 for 2 hours service.

Whaaaatttttt?????????????????

No wonder balik-balik Indonesia, trus pasang harga sejuta!

Kata gue: Situ pikirrrrrrrr??????????????????????????????????

Gue jadi ingat, Epentje pernah cerita tentang masseur-masseur Jakarta yang go-international ke Singapore itu. Dia pernah dapat,…… katanya, lumayan lah, harganya sedikit lebih murah dibanding “masseur” asli Singapore, atau yang impor-impor dari mainland China.

Oh, really????????????? Si Ant emang pernah cerita kalo banyak escort-escort dari mainland China yang mengeksporkan dirinya ke Singapore, dan perhaps Negara-negara lainnya. Gue juga pernah liat di utopia-asia, banyaaaaaakkkkkkk banget, dengan foto-foto hot gitu.

Beberapa waktu lalu, temen group Muscle-Mary gue cerita, waktu dia jalan ke Singapore buat liburan, diflirtingin sama Cina muscle di Chinatown. Diliatin waktu lagi jalan, disenyumin sampai grogi sendiri. At first, dia pikir kayak kalo diliatin co-lucu di PI kali ya…… cuma buat kenalan. Tapi ternyata, si Cina muscle itu nawarin pijet.

Hahahhahaha…………… jadi ingat kata Ant, escort-escort mainland China yang body-nya bagus-bagus itu, ya emang mangkalnya di Chinatown lahhhhhhh. Trus, yang Indonesia di mana??? Geylang, perhaps?????????????????????????

.

.

.

.

.

Fa, tepok-jidat

Plus-Plus Rasa Lokal Harga Impor [1]

Sumpeh, blog ini eksis lho: www.jktmalemass.blogspot.com. “Mass” itu maksudnya “massage’, so you can imagine what it is about, kan????????

Beberapa minggu lalu, gue diajak makan-makan ultah temen gue, sebut aja si X. Dia cerita kalau sekarang ada blog isinya info-info pijet pria panggilan. Dan of course, yang dia maksud dengan pijet pria panggilan itu ya pastinya ya panggilan dengan plus-plus-plus-dan-plus. Dan of course lagi, in case ada yang gak ngerti, maksudnya lagi sih ya pijetnya cuma kamuflase doang, main service-nya ya plus-plus itu. Giving you a veeeeeerry happy ending!

Gue ngakak!

Tadinya gue piker si X dapat tau dari teman gue yang lain, karena gue jadi ingat kalau temen gue yang lain, sebut aja si Y, udah kasak-kusuk dengan temen gue yang lain lagi, sebut aja si Z, tentang blog ajaib itu.

Ajaib???

Iya, karena gue gak ngebayangin ada orang yang segitu kurang kerjaannya mengumpulkan info-info male massage di Jakarta, dan melaporkannya, lengkap dengan umur, top/bottom/versatile role, endowment size, dan kadang-kadang price

Gue piker: offensive gak sih buat pemberi jasa itu ketika foto-fotonya dipajang orang dengan seenaknya tanpa izin dulu?

Tapi kata temen gue: “Yaaaaaaaaaaaaaaa…………… kan ituung-itung promosi!!!!!!!!!!!!!!”. Dan kata mereka lagi, “BIG THANK to the blog owner!!!!! Udah gak ribet lagi kalau mau panggil pijat plus-plus!”.

Hihihi…………… kasian Pos Kota dong ya??? Pembelinya bakalan berkurang!

In my “Anything About You Survey 2012’, I found that among gay men who ever had sex, 24% of them ever paid for sex, and also there is another 13% ever got paid for sex by any means. By any means, maksud gue, kalo lo-brondong ketemu gadun-gadun-gendut [hihi… maap, tapi sumpeh, gadun-pencari-brodndong gak ada yang muscle kan???????????], trus diajak shopping ini itu, ditraktir makan sana-sini,………… termasuk ‘got paid for sex’ gak sih??????? Hihihi…

Nah, speaking of having paid-sex, gue nggak tau deh, this number gede apa nggak kalo dibandingkan ama str8 people, ya??? But one thing for sure, I was one of the 24% [but not 13% yaaaa………… Hihihi…]. Ya, to be honest, I did it before, I went to pijet plus-plus.

Well, it was a past – and in my defense [meski sebenarnya juga gue gak perlu defense apa-apa sih…!!!!!!!!!!!], I was single, young, adventurer, and ready to take any risk. And once in a while, I wanted to release the sex-tense at no drama.

At no drama, you said???????

Hihihi……………… yah, abisnya dulu waktu single dan soooooo-desperate to fall in love, hidup gue penuh drama!

And risk, you said???????????

Of course, risk… going to a place for pijat plus-plus or paying someone to come to your place for sex, actually kind of high risk. You never know who you will meet and what he brings along. I mean: entah dia udah ngelayanin berapa orang in his “career”?, entah dia udah ngelayanin berapa orang hari itu?, entah dia having STD atau nggak?, entah dia beneran cakep atau nggak as advertised [hihi…]?,…… and how about criminality? Belon lagi kalau lo-nya type-type feeling guilty, yang kemudian ngerasa “kok gue kayaknya desperate banget ya sampai paid someone for sex????”

So many entah!

But the truth is, ketika gue ngeliat lagi data di survey iseng-iseng gue itu, among those who ever paid another man for sex, cuma 71% lho yang pake kondom, 10% never, sisanya in-between. The question is: 71% is a relieved number or scary number? You say!!!!!!!!!!!!!

.

.

.

.

.

Fa, scary-I-thought

No You by 12

It was 10 pm.

Gue udah ngantuk banget. Selalu begitu kalo di kantor lagi banyak kerjaan. Maklum, biasanya kerjaan gue di kantor kan sok-ngecek-ini-itu-padahal-ngefacebook-dan-ngopi-ngopi aja.

Pipis.

Minum supplement.

Lalu berdiri sebentar di depan cermin.

Gue ambil sleeping mask gue yang dulu beli di Korea.

Gue olesin di wajah.

Perlahan dari dahi, pijat dikit seputar mata, pipi, dagu, leher.

Tipis merata.

Perfect!

Sambil berdoa, semoga waktu bangun besok pagi, gue akan keliatan 5 tahun leibh muda.

I feel 5 years younger, actually, and happy.

Tapi kadang, kerutan di seputar mata emang gak bisa boong. Kalo gue lagi, “mirror mirror on the wall, who is the fairest of all?”. Jawabannya, “Eh…………… itu, uban udah banyak!!!!!!!”. Jadi udah sejak beberapa tahun lalu, pertanyaannya udah gue ganti, “mirror mirror on the wall, who is getting older but still sexy???”.

Hihi… me! Me! Me!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

I don’t mind getting older. Masalahnya gue cuma pengen tetap cantik dan sexy aja! Dan definitely, gak ada yang bernyanyi “Kau tampak tua dan lelah!!!!!!”. Hihi… pasti gue tampar! Makanya kalo ada temen kantor yang suka gak-ada-kerjaan-ngomentarin gue, “Ngapain sih diet-diet, makan apa aja!!!! Hidup cuma sekali ini???”. Gue selalu tersenyum, dalam hati… “True! Hidup cuma sekali, gue pengen yang sekali ini gue sexy!”

Tapi emang gravitasi terlalu kuat buat menahan putaran waktu. Pelembab gue udah ganti dari non-oil, whitening, jadi “anti-ageing”.

Minggu lalu ada blog reader nginterview gue buat skripsinya. One of the question was, “Fa, apa sih bedanya secara umum antara gay sama str8 people, selain orientasi sexualnya?”.

Waktu itu gue jawab, “Gay people tends to be stronger. Living in high pressure, dari kecil, dan di mana saja, gay people must work harder to show the world that we are smart-success-independent-strong people. Otherwise, a little mistake akan diikutin dengan cacian ‘dasar homo’. No!!!!!! We don’t give a room for other people to judge us on our sexuality”.

That is correct. Tapi seharusnya masih ada yang harus gue tambahin ………… “gay people demen dandan!”.

Hihi… admit that! Meski mungkin nggak sampai dandan dalam artian wearing cosmetics, but we are all using beauty product, kan? Gak usah malu-malu – it’s ok! We should be proud that we are the main target of all the men’s facial care. Meski iklannya bintang-bintang macho dengan aktivitas-aktivitas macho [we don’t care about him, kan???], but yes, we use it cause we want it.

They just promo about facial wash.

We bought complete dengan pelembab dan eye cream-nya, kan???

That make us different with str8 man. Thanks to that!!!

……

……

……

So, here I was.

Stood tall in front of the mirror.

Made a wish……

“I wish for a healthy heart.

I wish for a strong mind.

I wish for love.”

……

……

……

It was 10 pm.

I was gonna sleep tight.

No bday cake by 12.

No bday kiss by 12.

No you…

……

……

But it was ok.

I knew you would wake up, and called me.

.

.

.

.

.

Fa, kangen!

Breaking Up Sucks! …… so does lonelines

Just a couple weeks ago, a dear friend told me that his BF finally broke up with him. Just like that, no conversation, no face-to-face talks, just BBM text and saying, “So, let’s break up!”

Ouch!!!!!!!!

It killed me hearing about it. And I was like shocking to know that how easy to break up just by BMM text. Apa mungkin gue yang terlalu old-fashion untuk berpikir kalau break up itu harus ngobrol langsung. Kalo dulu ketemu face-to-face, dan jadian juga face-to-face, no matter how hurt to break up, ngobrol face-to-face is a courtesy, right?

My friend thought so.

But his BF did not.

Many things change, apparently!

Well…… my All About You Survey 2012 said so! Meski 74% kita bilang pernah putus dengan bertatap muka langsung, ternyata 52% juga bilang pernah putus lewat SMS / BBM. And sadly, 40% bahkan pernah memutuskan pacar dengan menghilang begitu aja. Ouch! Ouch! Ouch!!!!!!!!!!!!!!

Tapi satu yang gak pernah berubah, breaking up sucks!

Admit it! We all want to live in a relationship happily ever after. Tapi gak semua yang kita mau, bisa kita dapatkan, bukan? Dan kadang itu membuat kita desperately doing anything to keep in the relationship we have.

As for my best friend who just broke up,……. If I can be frankly to him, I should say to him many years ago that they are not living in a healthy relationship. Yes, beberapa tahun lalu temen gue melakukan satu kesalahan fatal. But then, yes, beberapa tahun lalu BF-nya bilang kalau dia dimaafkan, dan mereka tetap pacaran.

Apparently, I saw them keeping the relationship for the sake not being alone.

Maaf itu tidak pernah diikuti dengan melupakan.

Is it bad? Well, who the hell I am to judge? Couple years ago, I was not having any relationship, perawan tua yang gak laku-laku, si sok kecakepan yang bertabur teori cinta, living a bitter life dengan sangat judes, dan hidup dalam dunia hitam putih tanpa warna kelabu.

Hanya ada ya, atau tidak.

Fully happy, or desperately sad.

Love to the fullest, or not at all.

Living in a healthy relationship, or being alone.

Sepertinya gue terlalu lama mengalami kesendirian, dan menikmatinya.

Dan bahkan gue sudah lupa betapa menyiksanya kesendirian itu.

So, meski dulu gue berpikir mengapa temen gue menjalani relationship for the sake of not being alone? Now I totally understand it. Why? Because being lonely sucks! Apalagi ketika lo udah terbiasa dengan keberadaannya every morning, noon, and night.

Just a day before My_Noon gue anterin ke bandara. Gue bangun pagi dengan kepala berat, mungkin karena akhirnya tadi malamnya mata gue terpejam jam 1 pagi, lalu gue melihat jam.

Oh My God!!!!!!! Jam 9.30???????? Telat ngantor! AAARRRRGGGHHHHH!!!!!!!!!!

Hihihihi…… I am not “not-a-morning” person. In normal exhausted day, gue toh pasti akan bangun paling tidak jam 8 karena gue harus pipis. In a normal happy day, jam 6 gue juga akan terbangun karena My_Noon pasti sudah gedebak-gedebuk, masuk ke kamar telanjang abis mandi, dan berisik ganti baju. Then, a morning kiss will wake me up.

Every morning!!!

But then he left… nobody wake me up, anymore! No naked body. No morning kiss. And now I totally understand, being lonely sucks!

So, I now totally understand my best friend why [in my opinion] he was living a relationship for the sake of not being alone. Just like 42% of us – according to my All About You Survey –  yang pernah mempertahankan relationship karena gak mau hidup sepi sendiri.


.

.

.

.

.

Fa, God-I-miss-a-morning-kiss